Mencari Makan Ke Kebun Sawit, Usai Habitatnya Rusak

Habitat langka di Borneo, Bekantan (Nasalis Larvatus) adalah benar di daerah rivarian atau kiri dan kanan sungai dan kawasan hutan mangrove. Namun beberapa saat terakhir mereka memasuki areal perkebunan kelapa sawit. Diindikasikan, kondisinya karena habitat aslinya mulai rusak.

Fakta tersebut diungkap melalui penelitian dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Yaya Rayadin, bekerja sama dengan tim Ekologi dan Konservasi Ekosistem Kalimantan Timur (Ekositrop), menggunakan studi kamera jebak, tersebar di perkebunan kelapa sawit, pertambangan, perkebunan industri Hutan (HTI), kawasan konservasi dan kawasan lindung di Kalimantan Timur.

“Selama kamera perangkap 4 tahun, merekam dan memotret beberapa belalai monyet yang bergerak di atas tanah,” kata Yaya dalam penjelasannya pada Kamis siang (23/11).

“Sejauh ini kita hanya tahu bahwa Bekantan hanya tinggal dan berpindah ke pohon itu di habitat khusus, yaitu di daerah rivarian (sisi kanan sungai) dan bakau,” kata Yaya.

“Ironisnya, pergerakan Bekantan di atas permukaan tanah sebenarnya tercatat di areal perkebunan kelapa sawit, perkebunan industri dan kawasan reklamasi pertambangan, yang dikenal tidak sebagai habitat Bekantan,” kata Yaya.

Bekantan, lanjut Yaya, adalah hewan endemik Pulau Kalimantan, dimana di dunia hanya tinggal di pulau Kalimantan dan hanya tersebar di beberapa jenis mangrove dan habitat rivarian. Mereka adalah hewan yang hidup berkelompok dan sangat bergantung pada vegetasi mangrove dan beberapa spesies pohon di daerah rivarian.

“Karena sangat sensitifnya primata Bekantan, sangat jarang menemukan hewan ini di kebun binatang,” jelas Yaya.

Populasi Bekantan di Kepulauan Borneo, khususnya belum pernah dihitung. Namun, saat menyusun hasil berbagai penelitian yang dilakukan di beberapa tempat di wilayah Sabah, Brunei, Sarawak dan Kalimantan diperkirakan populasi 15.000 sampai 20.000 ekor hanya hidup.

“Perubahan perilaku gerakan Bekantan dari arboreal (bergerak di atas pohon kanopi) ke terestrial (bergerak di atas permukaan tanah) akan membawa beberapa konsekuensi pada terganggunya keberlanjutan populasi Bekantan,” kata Yaya.

“Bekantan yang bergerak dan bergerak di lapangan, menjadi indikator bahwa habitatnya rusak dan kekurangan sumber makanan untuk kelangsungan hidupnya sehingga Bekantan bergerak mencari sumber makanan ke tempat lain, termasuk area perkebunan kelapa sawit, pertambangan dan HTI.

Ia menambahkan, kondisi bekantan yang masuk ke kelapa sawit sangat rentan terhadap hewan lain seperti ular piton, tungkai harimau.

“Bahkan untuk potensi kecil diserang kucing,” kata Yaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s